Minggu, 26 Sep 2021
  • SMKN H Moenadi akan melaksanakan ANBK pada tanggal 20 dan 21 September 2021. Mohon doa dan dukungan ## SMKN H Moenadi merebut Juara 2 Cabang Voli Putra dalam POPDA

Kunjungan Kepala Pusat Pendidikan Kementerian Pertanian di SMKN H Moenadi Ungaran

 

Model Menanam Hidroganik

Ungaran, SMK Negeri H Moenadi Ungaran – Semakin menurunnya generasi muda yang berkecimpung di dunia pertanian menjadi salah satu perhatian SMK Negeri H. Moenadi Ungaran. Sebagai Sekolah yang mendukung pertumbuhan tenaga kerja trampil menengah dibidang pertanian, berbagai inovasi dan teknologi selalu dikembangkan dalam rangka menarik minat para peserta didik. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah budidaya padi hidroganik.

Teknik budidaya padi hidroganik yang dipopulerkan oleh Bapak Basri dari Malang, merupakan perpaduan budidaya padi dengan budidaya ikan. Dengan metode ini petani mampu menghasilkan padi sebagai tanaman utama dan ikan sebagai alternatif kedua.

Lahan yang terbatas dan tenaga kerja yang minim menjadikan metode ini menjadi suatu pilihan alernatif dalam budidaya padi. Beberapa keuntungan dari cara ini adalah tidak banyak memerlukan tenaga kerja dalam pengolahan tanah dan penyiangan tanaman penganggu. Tanaman padi ditanam dengan media tanam  campuran arang sekam dan kompos dalam gelas yang diletakkan pada pipa paralon berukuran 6 inchi. Untuk satu pipa berukuran panjang 4 meter mampu ditanami padi sebanyak 16 tanaman.  Pipa ini diletakkan di atas kolam lele, dengan jarak antar pipa 30 cm.  berbeda dengan budidaya padi hidroganik sebelumnya, SMK Negeri H. Moenadi melakukan inovasi dengan cara organic. Nutrisi yang diserap oleh tanaman padi didapatkan dari kotoran lele. Kotoran lele akan diuraikan menjadi nutrisi tanaman dengan cara pemberian Pupuk Cair Organik (POC) yang diproduksi  sendiri oleh SMK Negeri H. Moenadi. SMK Negeri H. Moenadi Ungaran menerapkan zero pupuk anorganik, dan dari metode ini menghasilkan anakan padi yang luar biasa. Dari 2 bibit yang ditanam mampu menghasilkan anakan padi 50-60 buah, dan bebrapa gelas plastikyang digunakan sebagai media sampai pecah karena tidak mampu menahan pertumbuhan anakan padi. Hasil produksi metode ini adalah  setiap 12-15 lubang tanam didapatkan kurang lebih 1 kg gabah basah.

Kunjungan Kepala Pusat Pendidikan Kementerian Pertanian

Bryan salah satu peserta didik kelas XII mengungkapkan keheranan dan kekagumannya pada sistem budidaya ini, “Cara ini bisa dapat double ya pak,  bisa dapat padi dan lele, komplit nasi dan lauknya,” katanya sambil tertawa bersemangat. Sementara Candra menambahkan, “Bertani dengan cara ini jadi tidak takut kotor ya pak, gak kena lumpur”. Inovasi ini selain menjadi media pembelajaran bagi peserta didik juga memberikan wawasan kepada setiap pengunjung yang datang bertamu di SMK Negeri H. Moenadi, salah satunya Kepala Pusat Pendidikan Kementerian Pertanian Ibu Dr. Idha Widi Arsanti, SP, MP, menyatakan bahwa pemanfaatan setiap jengkal lahan di sekolah dengan berbagai inovasi pertan ian bisa menjadi contoh bagi sekolah yang lain. Pengembangan dari cara ini masih terus dikembangkan di SMK Negeri H. Moenadi mengingat beberapa kendala dalam proses budi daya masih ditemui. Pemilihan varietas padi juga menjadi perhatian, karena bila pada jenis padi dengan ketinggian tertentu akan menjadikan tanaman lebih mudah roboh.

 

Penulis : Taat Sutarso, S.T.P

Editor  : Agustina Umi Mauhibah, S.Pd

KELUAR