Sabtu, 23 Okt 2021
  • SMKN H Moenadi mengucapkan Selamat atas keberhasilannya merebut Piala Thomas ## SMKN H Moenadi akan melaksanakan vaksinasi kedua besok Selasa, 19 Oktober 2021

Pembelajaran Pertanian Bagi Generasi Z (Bagian 1)

Pembelajaran Pertanian Bagi Generasi Z (Bagian 1)

Pendidikan saat ini, mau tidak mau, suka tidak suka, dihadapkan pada tantangan untuk mendidik generasi yang sangat berbeda dengan generasi kita. Sebagai gambaran, sebagaimana dikemukakan oleh Graeme Codrington dan Sue Grant Marshall dalam Generation Theory  telah membagi generasi dalam 100 tahun terakhir, maka guru-guru yang aktif mengajar  saat ini merupakan kelompok yang termasuk generasi Baby Boomer (lahir 1946-1964), gen- X (1965-1980),  dan gen- Y (1981- 1995) atau disebut generasi milenial. Guru akan berhadapan dengan generasi Z (1996-2010) atau yang sering disebut dalam banyak istilah dengan sebutan iGen (iGeneration), gen Net (generasi internet), gen Tech, digital natives, dan plurals.

Berbicara mengenai generasi Z, kita ambil sebuah literatur dari Pew Research Center, menyebutkan bahwa mereka merupakan generasi yang lebih beragam secara ras dan etnis dan lebih toleran, berada pada jalur pendidikan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya, dan secara sosial memiliki pandangan yang hampir sama dengan generasi milenial. Mengutip dari  https://puslitjakdikbud.kemdikbud.go.id  mengenai karakteristik generasi Z berdasarkan penelitian longitudinal sepanjang 2003 sampai dengan 2013  oleh Bruce Tulgan dan Rainmaker Thinking, Inc dalam “Meet Generation Z: The Second Generation within The Giant Millenial Cohort”, menunjukkan lima karakteristik utama Gen Z yaitu : Pertama, media sosial adalah gambaran tentang masa depan generasi ini. Gen Z merupakan generasi yang saling terhubung satu dengan yang lain melalui media sosial.  mereka dapat terhubung, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan siapapun. Kedua, konektivitas antarindividu siapa pun mereka dianggap sesuatu yang penting.

Ketiga, terjadi gap keterampilan dengan generasi sebelumnya. Keempat, Gen Z menjelajah berbagai sumber di dunia maya dan terkoneksi dengan banyak orang di berbagai tempat secara virtual di berbagai belahan dunia sehingga mereka memiliki pola pikir global (global mindset). Kelima, toleransi sebagai dampak dari interaksi global dengan berbagai pola pikir, ide, keyakinan, menyebabkan mereka mudah menerima keragaman dan perbedaan. Namun, terdapat dampak negatif dimana mereka tidak mampu mendefinisikan identas diri, akibat berbagai hal yang mempengaruhi mereka, sehingga sering didapati identitas yang berubah-ubah.

Menghadapi fenomena ini, maka guru harus mampu menjadi processor yang baik bagi generasi Z, sehingga mereka memiliki kemampuan untuk mengarungi kehidupannya kelak. Tugas guru sedikitpun tidak bergeser akibat adanya fenomena tersebut. Tugas guru tetap sama yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan  mengevaluasi peserta didik. Hanya saja, pada tataran penerapannya guru dituntut berada pada pusaran  arus teknologi informasi. Mengikuti pola pikir dan cara mereka memperolah informasi bukan perkara mudah, terlebih lagi harus membimbing mereka untuk memanfaatkan teknologi secara positif.

Kesalahan dalam mendefinisikan karekter generasi ini menyebabkan guru bersikap apriori terhadap kemampuan mereka. Gap generasi bisa berdampak pada gap metode pembelajaran. Permasalahan kesalahan mendefinisikan ini terjadi pada hampir semua pendidik. Hal ini juga terjadi pada Guru SMK yang mengajarkan bidang Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH), permasalahan ini akan menjadi lebih rumit lagi manakala metode  pembelajaran  masih berkutat pada  metode konvensional bahwa guru merupakan satu-satunya sumber belajar. Kelemahan guru dalam bidang teknologi informasi akan semakin memperparah permasalahan di lapangan. Dampaknya, akan ditemukan lulusan SMK Pertanian yang gagap terhadap perkembangan teknologi pertanian. Akibatnya mereka akan cenderung mencari sumber pekerjaan selain pertanian atau tetap mempraktikkan sistem pertanian tradisional yang semakin ditinggalkan.

Guru SMK bidang Pertanian dihadapkan pada minimal dua permasalahan pokok yakni permasalahan pedagogik terkait gap generasi yakni generasi berbasis internet dan permasalah perkembangan teknologi pertanian di sisi lainnya. Dua permasalahan ini bukan seperti  membalikan telapak tangan. Peningkatan kemampuan guru ATPH dalam hal teknologi informasi perlu ditingkatkan dan tidak boleh ada lagi yang merasa alergi manakala mendengar istilah teknologi informasi. Penghalang-penghalang yang menjadi hambatan untuk belajar teknologi harus terus dilawan dan dicari solusinya. Sebagaimana kemampuan lainnya, kemampuan dalam bidang teknologi informasi perlu dilatih dengan tekun sehingga ditemukan alternatif cara yang cocok untuk digunakan. Pembelajaran daring yang saat ini harus dilakukan akibat pendemi bisa menjadi starting point untuk belajar teknologi informasi. Penggunakan aplikasi G-Classroom, G-Meet, Zoom Meeting sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan dan merupakan hal paling sederhana dalam pembelajaran daring. Maka kemampuan teknologi informasi sudah sangat mutlak dimiliki oleh semua pendidik.

Setelah era mekanisasi pertanian,  maka era digitalisasi pertanian sebagai basis pengembangan otomatisasi pertanian juga tidak terelakkan lagi. Hal ini  akan menjadi tambahan pekerjaan rumah bagi guru-guru pertanian. Belum lagi dihadapkan pada masalah klasik isu lingkungan hidup, pertanian berkelanjutan, sistem organik, yang semuanya masih menjadi headline pada bidang pertanian.

Sebagai kesimpulan awal dari tulisan ini bahwa pekerjaan besar guru SMK bidang pertanian dalam rangka mencetak generasi muda penerus pembangunan bangsa yakni melalui peningkatan kemampuan kompetensi pedagogik terutama untuk memahami karakteristik generasi Z, mengaplikasikan  dalam pembelajaran berbasis teknologi informasi, dan mensinkronisasikan dalam bidang pertanian.

Taufiq Fahrurozi, STP – Guru ATPH SMK Negeri H. Moenadi Ungaran

KELUAR