Jumat, 03 Des 2021
  • Terima kasih kepada SMKN 2 Blora yang telah berkunjung ke SMKN H Moenadi Ungaran

Niatkan Semua Pekerjaan untuk Ibadah

Niatkan Semua Pekerjaan untuk Ibadah

Alhamdulillah, washolatu wassalamu ala rarulillah amma ba’du.

Alhamdulillah bertepatan dengan tanggal 10 agustus 2021 kita memasuki tahun baru hijriyah 1 Muharam 1443 hijriyah. Memasuki tahun baru hijrah hendaknya kita memperbanyak syukur kepada Allah SWT sebab masih diberi kesempatan untuk hidup, menambah tabungan amal kebaikan dan bertaubat dari kesalahan yang telah lampau.

Dalam catatan sejarah “Tarikh Islam”, penggunaan tahun hijriyah dimulai pada masa kepemimpinan kholifah ke-2 sahabat Rasulullah yang mulia “Umar ibn Al Khottob” radhiyallahu ‘anhu. Dan disebut dengan tahun hijriyah sebab yang menjadi dasar dalam penetapannya adalah awal hijrah Nabi bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah, hal tersebut merupakan usulan dari sahabat sekaligus menantu Rasulullah SAW “Ali ibn Abi Tholib” radyiallahu ‘anhu.

Peristiwa hijrah merupakan peristiwa agung yang terkandung beragam hikmah di dalamnya. Mengawali tahun baru 1443 Hijriyah, saya ingin mengajak para pembaca sekalian untuk merenungi satu hadist yang “asbabul wurud” terkait dengan peristiwa tersebut.

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ” متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (Muttafaq ‘alaih/ HR. Bukhori dan Muslim)

Para ulama terdahulu sangat senang membuka tulisan kitabnya atau memulai kajiannya dengan menyampaikan hadist di atas, sebagai pengingat akan pentingnya kedudukan niat. Sehingga para penuntut ilmu dapat memperbaiki dan menguatkan niatnya semata-mata untuk ibadah meraih ridho Allah SWT.

Niat menjadi rahasia masing-masing individu sebab letaknya ada pada hati. Tidak ada yang tahu niat apa yang terbesit dalam hati kita melainkan diri kita dan Allah SWT. Secara pandangan mata mungkin kita sama-sama belajar atau bekerja dengan banyak orang, bentuk pekerjaannya mungkin sama namun nilai pahalanya berbeda-beda sebab niat dalam hatinya. Ketulusan niat menjadi nilai yang sangat berharga dari seorang hamba kepada sang Pencipta.

Para pembaca sekalian, setelah kita mengetahui pentingnya keudukan niat tersebut. Hendaknya kita berusaha selalu menghadirkan niat untuk beribadah kepada Allah dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Wallahu a’lam

Penulis : Nur Wakhid Al Ghufron, S.Pd, Guru Pendidikan Agama Islam SMKN H Moenadi Ungaran.

KELUAR