Jumat, 03 Des 2021
  • Terima kasih kepada SMKN 2 Blora yang telah berkunjung ke SMKN H Moenadi Ungaran

Mengawal Kinerja Guru

Mengawal Kinerja Guru
Seseorang akan melakukan sesuatu atau bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan merealisasikan keinginan yang menjadi cita-citanya. Kebutuhan adalah keadaan ketidakseimbangan internal yang menyebabkan individu menempuh jalur-jalur aksi tertentu agar bisa mendapatkan kembali keseimbangan internalnya.
Maslow menyusun suatu teori tentang kebutuhan manusia yang bersifat hirarkis dan dikelompokkan menjadi 5 tingkat yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, harga diri dan aktualisasi diri.
Kebutuhan fisiologis adalah tuan paling rendah tingkatannya dan memerlukan pemenuhan yang paling mendesak. Misalnya kebutuhan akan makanan, minuman, air dan udara. Kebutuhan rasa aman adalah kebutuhan tingkat kedua yaitu suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian dan keteraturan dari keadaan lingkungannya misalnya kebutuhan akan pakaian, tempat tinggal dan perlindungan atas tindakan sewenang-wenang.
Kebutuhan kasih sayang ini mendorong individu untuk mengadakan hubungan afektif atau ikatan emosional dengan individu lain baik dengan sesama jenis maupun dengan yang berlainan jenis di lingkungan keluarga ataupun di masyarakat. Misalnya disayangi, diterima dan dibutuhkan orang lain.
Kebutuhan akan rasa harga diri. Kebutuhan ini terdiri dari dua bagian pertama adalah penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri dan kedua adalah penghargaan dari orang lain. Misalnya untuk memperoleh kekuatan pribadi dan mendapat penghargaan atas apa yang dilakukannya.
Kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang paling tinggi dan akan muncul apabila kebutuhan yang ada dibawahnya sudah terpenuhi dengan baik.
Berdasarkan lima hirarki kebutuhan menurut Maslow, seorang kepala sekolah sebagai manajer harus bisa memetakan kebutuhan guru-gurunya. Dalam satu sekolah, ada dua golongan guru, yang pertama guru PNS dengan golongan yang sudah tinggi dan mendapat tunjangan profesi. Yang kedua guru PNS dengan golongan rendah atau Non PNS dan belum mendapat tunjangan profesi. Pembinaan terhadap kedua golongan guru ini harus berbeda.
Guru golongan pertama sesuai hirarki Maslow pada tataran aktualisasi diri. Tidak lagi bicara pada hirarki kebutuhan fisiologis. Hal ini dikarenakan mereka sudah mendapatkan gaji tinggi dan tunjangan profesi. Kepala sekolah harus mendorong guru-guru golongan ini untuk memberikan kinerja terbaik.
Sementara untuk golongan kedua, kepala sekolah harus memenuhi dulu kebutuhan fisiologis. Karena sesuai dengan postulat Maslow, untuk sampai hirarki paling tinggi harus melewati hirarki yang bawah dulu. Untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, maka kepala sekolah mendorong guru-guru untuk naik kelas. Jika PNS terus didorong untuk naik golongan dan non PNS dikawal menjadi PNS atau PPPK.
Agar bisa seiring menuju kinerja terbaik, maka guru golongan pertama harus memberi contoh dalam melaksanakan kinerja kepada guru golongan kedua. Kepala sekolah  menciptakan pola hubungan kerja guru golongan pertama menjadi pengasuh guru golongan kedua. Sehingga seiring waktu semua anggota organisasi sekolah mampu memberikan kinerja terbaik untuk sekolah.
Penulis : Ardan Sirodjuddin, Plt Kepala SMKN H Moenadi Ungaran.
KELUAR